Monday, July 20, 2009

Menceritakan Aib Orang Lain

Jika keaiban itu tidak kita perlukan untuk tahu, tidak melibatkan kepentingan umum, tidak mengganggu kenegaraan, maka aib tu kita tutup. Aib seseoran itu yang berhubung dengan seorang yang lain, itu sebaiknya kita tutup. ALLAH suka kita menutupi aib orang lain.
Dalam sebuah kisah tentang Umar bin Abdul aziz dan anaknya Abdul malik bin Umar bin Abdul aziz. Abdul malik bin Umar bin Abdul aziz adalah seorang pemuda yang zuhud dan taat kepada ALLAH. Beliau hidup jauh dari ayahnya.
Umar bin Abdul aziz sangat menyayangi anaknya yang zuhud dan sangat mentaaati ALLAH itu. Suatu hari Umar bin Abdul aziz mendengar cerita bahwa pada diri anaknya terdapat sedikit kesombongan. Hati Umar bin abdul aziz menjadi risau. Lalu beliau menemui orang yang terdekat dengannya Maimun. Dan beliau berkata :”wahai maimun, anakku telah menghiasi mataku( segalanya terlihat indah pada diri anaknya). Aku bimbang disebabkan rasa sayingku yang berlebihan terhadapnya, aku tidak mampu melihat kecacatan yang ada padanya. Pergilah engkau menemuinya, aku telah mendengar dari orang lain bahwa pada diri anakku ada sedikit kesombongan.”
Lalu maimun pergi ke tempat Abdul malik bin umar. Disana beliau melihat seorang pemuda(abdul malik bin umar) yang zuhud, hidup sederhana, tempat tidurnya hanya beralaskan tikar, dan terdapat sedikit makanan tempat itu. Lalu ia bertanya kepada pemuda itu:” dari mana engkau mendapatkan makanan setiap hari?”
Pemuda itu menjawab:”Alhamdulillah..aku bekerja..alhamdulillah makanan itu aku dapatkan dengan cara yang halal”.
Maimun merasa kagum pada pemuda itu, lalu maimun bertanya tentang ayah pemuda itu. Kemudian pemuda itu berkata :” aku bimbang kecintaan ayahku padaku membuat ayahku tidak mampu melihat kecacatan yang ada pada diriku.”
Hal ini membuat Maimun semakin kagum . tidak lama kemudian, datanglah pemilik tempat mandi awam/umum(hamam) menyerahkan kunci kepada abdul malik.
Maimun bertanya :”untuk apa kunci itu?”
Abdul malik:”untuk saya mandi”
Pemilik itu pun berkata:”orang-orang ramai telah dikeluarkan, sekarang anda bisa masuk untuk mandi”.
Maimun berkata:”aku sangat mengagumimu sehingga tadi…,sehingga aku melihat perkara ini.”
Abdul malik bertanya:”apa dosaku?”
Maimun:”untuk apa engkau mengeluarkan orang ramai?engkau sombong?”
Abdul malik:”tidak ..aku tidak sombong..aku telah membayar sesuai dengan kadar mereka semua.”
Maimun:”engkau mubazir..”
Abdul malik:”tidak..aku tidak mubazir..mereka itu orang kampong…disaat mandi mereka kurang menjaga aurat mereka.aku susah denga keadaan ini. Jika aku tegur mereka, tentu mereka akan menganggap aku sombong. Oleh sebab itu aku bayar sesuai dengan kadar mereka semua, agar aku bisa mandi seorang diri.”
Mimun :”engkau sombong…mengapa engkau tidak mau bersabar…menunggu hingga mereka semua selesai mandi, kemudian engkau bisa mandi seorang diri?apakah tidak bisa? Engkau mubazir..apakah engkau ingin memperlihatkan kepada orang lain bahwa engkau memiliki uang yang banyak?”
Abdul malik:”aku berjanji..aku tidak akan berbuat ini lagi..aku memohon ampun kepada ALLAH jika itu tanda kesombongan.”
Maimun berkata:” bagaimana aku akan menyampaikan tentang hal ini kepada ayahmu?” maimun ingin menguji abdul malik.
Abdul malik menjawab:”sampaikanlah kepada ayahku bahwa engkau telah melihat perkara yang kurang baik padaku. Dan engkau telah menasehatiku, dan aku telah menerima nasehatmu. Aku memohon ampun kepada ALLAH dan tidak akan mengulanginya.”
Maimun:”bagaimana jika ayahmu bertanya apa perkara yang kurang baik itu yang ada pada dirimu?”
Abdul malik:”tidak…ayahku tidak akan bertanya ..sebab ayahku tau ALLAH memerintahkan agar menutupi aib orang. Dan ayahku tidak akan bertanya tentang aib siapa pun, termasuk aib anaknya, sebab hal itu tidak ada keperlu bagi dirinya.”

Maimun menyampaikan…”aku kagum kepada keluarga mereka mereka berdua merupakan insane yang mentaati ALLAH aza wajalla.”
Begitulah dalam menghadapi aib orang lain. Umar tidak bertanya aib anaknya, jika tidak ada keperluan bagi dirinya. Lain halnya jika itu berkaitan dengan hak masyarakat , kepentingan umum , yang mana jika dibiarkan akan merusak masyarakat.

Wallahu’alam